Kami menyediakan Kopi Arabika & Kopi Robusta dari Lereng Gunung IJEN RAUNG Kab. Bondowoso dan Gunung ARGOPURO Kab. Situbondo Provinsi JAWA TIMUR
Menu
Model
Beranda » Berita » Sejarah Kopi Ijen Raung Bondowoso

Sejarah Kopi Ijen Raung Bondowoso

Dipublish pada 17 February 2017 | Dilihat sebanyak 1.631 kali | Kategori: Berita

Gambar : Gunung Ijen Raung dilihat dari Banyuwangi yang digambar oleh Emil Stohr (Jerman 1874)

Informasi yang tepat kapan Kopi Arabika mulai ditanam didataran tinggi Ijen Raung sangat berkaitan dengan sejarah masuknya bibit kopi pertama kali masuk ke Indonesia atau Hindia Belanda pada waktu itu. Pada abad ke-16, tepatnya kisaran tahun 1686 s/d 1696 Mayor Of Amsterdam (Nicholas Witsen) meminta Komandan Belanda yang bertugas di Selat Malabar untuk mendatangkan bahan tanam kopi dari Malabar di India ke Hindia Belanda.

Bibit kopi pertama yang didatangkan saat itu ditanam di Kadawoeng dekat Batavia. Gempa bumi dan banjir yang terjadi saat itu menggagalkan usah introduksi bahan tanam kopi pertama tersebut. Pada tahun 1699, Henricus Zwaardecroon kembali membawa bahan tanam kopi Arabika yang kedua dari Malabar. Bahan tanam inilahyang kemudian menjadi cikal bakal seluruh perkebunan kopi Arabika di Hindia Belanda.

Dua belas tahun kemudian tepatnya tahun 1711, dilakukanlah ekspor pertama kopi dari Jawa ke Eropa melalui perusahaan perdagangan milik pemeritah Hindia Belanda atau Dutch Indies Trading Company atau yang lebih dikenal dengan istilah Vereninging Oogst Indies Company (VOC). Ekspor tercatat sebanyak 116.687 pounds atau sekitar 52.929 kg ditahun 1720 dan 1396,486 pounds atau sekitar 433.635 kg ditahun 1724. Ekspor tersebut menjadikan Hindia Belanda sebagai daerah pertama diluar Ethiopia dan Arabia yang mengusahakan kopi dalam jumlah yang cukup banyak.

Pada tahun 1725 pemerintah Hindia Belanda mulai melakukan eksploitasi pada profit bisnis komoditas perkebunan seperti kopi, gula, teh dan karet. Raja Wilem 1 di Belanda kemudian memperkenalkan cultivation system dan terkenal dengan Cultuur Stelsel atau tanam paksa, eksploitasi terhadap lahan dan manusia mulai di lakukan pada tahun 1830-1870 setelah krisis ekonomi yang melanda Belanda kala itu.

Sejak saat itulah kopi mulai di tanam di mana-mana di wilayah Hindia Belanda. Para pedagang di Amerika dan Eropa saat itu, bahkan mengenali daerah Besoeki dan Pasoeroean sebagai penghasil kopi Arabika di jawa, karena kopi dari daerah tersebut mendominasi 85% dari produksi kopi jawa. Beberapa daerah lain yang juga dikenal sebagai penghasil kopi saat itu adalah Preanger, Cheribon, Kadoe, Semarang, Soerabaya dan Tegal. Penanaman pertama di daerah Besoekih atau kawasan dataran tinggi Ijen Raung saat ini, dimulai dari Mount Blau sekarang Blawan, tercatat rumah administratur di Blawan dibangun pada tahun 1895 seiring dengan pembangunan pabrik disebelahnya. Tercatat setelah Blawan, Kebun Jampit juga mulai didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1927.

Sampai dengan abad 18, Java Coffe dipercaya sebagai salah satu kopi terbaik dan menjadi bagian coffee-blend klasik Mocha-Java. Mocha-Java merupakan hasil blending antara kopi yang berasal dari kota Al-Mukha di Yaman dengan kopi jawa (java coffee).

Pada tahun 1880 hanya jenis Arabika yang tumbuh di dataran Hindia Belanda, sampai 1878 penyakit karat daun, Hemiliea Vastatrix menyeleksi secara alami dan hanya tanaman Arabika yang tumbuh di dataran tinggi yang mampu bertahan hidup. Kopi Arabika yang tumbuh di dataran rendah mati akibat serangan penyakit tersebut. Pemerintah Hindia Belanda selanjutnya mulai menanam kopi jenis Robusta dan Liberika untuk mengganti tanaman kopi Arabika yang mati di dataran rendah tersebut.

Kopi Arabika yang dikelola perkebunan-perkebunan Hindia Belanda tersebut merupakan cikal bakal bagi perkebunan rakyat di kawasan Ijen Raung. Sekitar tahun 1920, penanaman terbatas dipekarangan dilakukan pertama kali oleh rakyat di daerah Kayumas, Sukorejo dan Darungan. Buruh-buruh tani yang saat itu juga bekerja di perkebunan-perkebunan milik pemerintah Hindia Belanda membawa biji-biji kopi untuk di tanam di pekarangan.

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945, varietas-varietas baru kopi Arabika mulai di perkenalkan setelah revitalisasi dan nasionalisasi perkebunan-perkebunan besar milik Hindia Belanda tersebut pada tahun 1950. Pada awalnya istilah kopi Arabika kurang dikenal masyarakat di kawasan Ijen Raung. Mereka lebih mengenal “Kopi Padang”, dinamakan demikian karena setelah meminum kopi ini, maka pandangan menjadi terang atau “padang” dalam bahasa jawa.

Melalui Proyek Rehabilitas dan Pengembangan Tanaman Ekspor (PRPTE) tahun anggaran 1978/1979 melalui Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, pemerintah mulai berusaha untuk membangkitkan kembali budidaya kopi. Kegiatan tersebut secara tidak langsung meningkatkan motivasi untuk mengembangkan varietas Kopi Arabika di kawasan Ijen Raung. Pertimbangan pengembangan  Kopi Arabika Java Ijen Raung bukan hanya didasarkan pada kepentingan ekspor, akan tetapi perkebunan kopi di dataran tinggi juga dipandang mempunyai peran strategis dalam melestarikan fungsi hidrologis. PRPTE di Bondowoso telah mampu mengembalikan dan menambah luas areal perkebunan. Namun, peningkatan produksi tersebut rupanya belum diikuti dengan perolehan mutu yang baik.

Untuk mengatasi hal ini Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) untuk membangun agribisnis kopi Arabika di kawasan Ijen Raung dengan pendekatan pemberdayaan kelembagaan di tingkat petani. Dalam kerjasama ini fungsi Dinas Perkebunan lebih ditekankan pada penggarapan di sektor petani, sedangkan fungsi PPKKI lebih ditekankan pada penggarapan masalah pasar, pengawalan teknologi, perbaikan mutu, dan pembangunan sitem agribisnis.

Mesin yang difasilitasikan kepada UPH-UPH berupa pengelupasan kulit merah (pulper) dan mesin cuci (washer). Pada tahun 2009 PPKKI telah mulai menjajagi pasar dengan cara mendatangkan calon pembeli PT. Indokom Citra Persada dari Sidoarjo.

Pada awal tahun 2009 tersebut mulai di lakukan sosialisasi pentingnya mutu terhadap harga jual kopi Arabika Ijen Raung kepada para petani. Selain itu juga di mulai penyelengaraan pelatihan yg di kemas dalam bentuk sekolah lapang mengenai prosedur pengolahan basah pada kopi Arabika untuk memperoleh mutu cita rasa yang baik dengan menggunakan mesin yang tersedia. Pelatihan dipandu langsung oleh peneliti senior dari PPKKI. Pada tahun 2010 Dinas Perkebunan menfasilitasi para-para untuk penjemuran kopi berkulit tanduk (kopi HS). Setelah pelatihan para petani sudah mulai mau mengolah kopi dengan proses basah, walaupun dengan sikap sangat hati-hati.

Harapan adanya perbaikan harga ini rupanya telah mendorong para petani untuk menanam kopi kembali. Hal ini nampak dari animo petani untuk minta bantuan bibit kopi kepada Dinas Perkebunan. Pada tahun 2010 telah membantu bibit sambungan sekitar 15 ribu bibit kopi Arabika dengan batang bawah yang tahan terhadap nemaboda parasit.

Sejak tahun 2010 situasi ini telah berubah. Semakin banyak konsumen yang ingin membeli Arabika basah, dan permintaan ini bisa dipenuhi oleh UPH-UPH yang di fasilitasi oleh Dinas Perkebunan yang terus menyediakan peralatan-peralatan kepada kelompok tani, dan oleh beberapa pembeli yang juga menyediakan beberapa peralatan selama tahun-tahun terakhir ini. Beberapa kelompk tani juga ada yang membeli peralatan sendiri. Sampai saat ini terdapat 28 UPH yang mampu untuk memproduksi kopi olah basah. Keadaan baru ini semakin mendorong seluruh petani yang telah mengembangkan petik gelondong merah untuk meningkatkan luas perkebunan mereka. Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur dan Dinas Bidang Perkebunan Kabupaten Bondowoso serta Situbondo juga menyediakan pohon-pohon kopi (S795) dengan tujuan untuk membantu mereka untuk mengembangkan perkebunan-perkebunan ini.

Penjabaran tentang sejarah Kopi Arabika Java Ijen Raung di atas menunjukkan bahwa lebih dari satu abad, kopi telah menjadi budaya masyarakat petani yang primordial. Bahkan bila ada fluktuasi besar pada lahan yang di tanami, kopi ini menjadi tanaman yang penting dan menjadi pendorong bagi pembangunan daerah.

Sejak pemerintahan Belanda mulai mengembangkan tanaman ini di kawasan Ijen Raung, kopi mulai mendapatkan reputasi yang tinggi di masyarakat maupun orang Indonesia lainnya dan para pecinta kopi dari manca negara.

Saat ini, berkat pengembangan agribisnis khususnya dukungan komonitas Kopi Arabika Java Ijen Raung, semakin banyak orang dari luar kawasan ini dan dari manca negara berdatangan ke kawasan Ijen Raung. Hal ini semakin meningkatkan reputasi kawasan ini maupun produk-produknya, khususnya kopi.

Gambar : Gunung Raung pada saat meletus 2015, Foto diambil dari Kebun Penulis di Daerah Blawan

Selain konsumen dari domestik dan manca negara, konsumen Kopi Arabika Java Ijen Raung sekarang ini juga mencakup para pecinta kopi yang menganggap kopi jenis ini sebagai “origin coffee”, yang bersedia membayar kopi ini dengan harga tinggi. Para konsumen ini bisa ditemukan di Bondowoso atau di seluruh Indonesia, bahkan di Amerika, Australia dan beberapa negara Eropa, di mana kopi ini telah diekspor.

Salam,

Ijencoffee

 

Sumber :

  1. Buku Persyaratan IG Kopi Java Ijen Raung, Kementerian Hukum dan HAM RI;
  2. Wikipedia.
Bagikan

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Artikel Menarik Lainnya

Kopi Arabika vs Kopi Robusta

Dipublish pada 18 July 2018 | Dilihat sebanyak 2.352 kali | Kategori: Berita

Saat ini banyak merk-merk kopi yang memajang label “100% Arabika” pada kemasan kopinya. Banyak juga di antara kita para peminum kopi yang sepertinya enggan mencicipi kopi Robusta. Namun apa sebenarnya perbedaan Arabika dan Robusta? Rangkumannya dalam tabel berikut : Variabel... selengkapnya

MANISNYA HARGA KOPI ARABIKA IJEN RAUNG TAHUN 2018

Dipublish pada 24 July 2018 | Dilihat sebanyak 1.629 kali | Kategori: Berita

Judul diatas sengaja saya pilih untuk merepresentasikan perasaan hati riang dan gembira para petani kopi arabika di kaki gunung Ijen-Raung Kabupaten Bondowoso Jawa Timur. Pasalnya pada tahun 2018 ini, harga kopi arabika relatif lebih mahal dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal ini... selengkapnya

Metode Panen Kopi Arabika Ijen Raung

Dipublish pada 26 July 2018 | Dilihat sebanyak 3.435 kali | Kategori: Berita

Tanaman kopi yang dipelihara dengan baik sudah berproduksi pada umur 2,5 – 3 tahun bergantung pada iklim dan jenis tanaman kopi.  Tanaman kopi robusta Ijen Raung mulai berproduksi pada umur 2,5 tahun, sedangkan kopi arabika Ijen Raung mulai berproduksi pada umur 2,5 – 3 tahun. ... selengkapnya